rss

Tips HR & Payroll Software

Lebih dari 10 tahun kami hanya fokus membuat produk payroll, banyak pengalaman yang kami dapatkan. Dari pengalaman tersebut, kami yakin dapat membantu dan memberikan solusi untuk permasalahan perhitungan penggajian di perusahaan Anda.

Alasan Kenapa Uang Lembur selalu diterima kurang

Alasan Kenapa Uang Lembur selalu diterima kurang

Dalam beberapa perusahaan masih saja ditemukan cara perhitungan lembur yang belum sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Contohnya saja, bilamana terdapat karyawan yang melakukan pekerjaan lembur dipagi hari, yakni sebelum masuk kerja sebanyak 1,5 jam. Dan untuk malam harinya, karyawan tersebut juga melakukan pekerjaan lembur sebanyak 2 jam. Dengan demikian, hasil perhitungan uang lembur pada perusahaan tersebut adalah :

Waktu Kerja Lembur Jam Lembur Pengali Hasil
Lembur di pagi hari 1 Jam Dikali 1.5 1.5
  0.5 Jam Dikali 2 1
  1.5 Jam   2.5
       
  Jam Lembur Pengali Hasil
Lembur di malam hari 1 Jam Dikali 1.5 1.5
  1 Jam Dikali 2 2
  2 Jam   3.5
       

Dengan asumsi gaji pokok Rp. 3,000,000. Maka untuk perhitungan lembur (menurut perusahaan tersebut) adalah :
(2.5+3.5) x (3,000,000/173) = Rp.104,046.2

Apakah cara perhitungan Upah Kerja Lembur diatas sudah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku?

Mari kita lihat UU 13 tahun 2003 Pasal 77 ayat (2) yang mengatur mengenai Waktu Kerja : “Waktu kerja, meliputi :

  1. 7 (tujuh) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu, untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu minggu), atau
  2. 8 (tujuh) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu, untuk 5 (enam) hari kerja dalam 1 (satu minggu).”

Pengusaha yang memperkerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja diatas, wajib membayar Upah Kerja Lembur, sesuai yang ditegaskan UU 13 tahun 2003 Pasal 78 ayat (2). Dan berdasarkan Pasal 78 ayat (4) “Ketentuan mengenai waktu kerja dan upah kerja lembur sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Keputusan Menteri”.

Keputusan Menteri tersebut adalah KEPMEN 102/MEN/VI/2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur, berikut adalah tabel cara perhitungan Upah Kerja Lembur sesuai dengan KEPMEN 102 Pasal 11 :

Jenis Hari Jam Lembur Pengali Upah Lembur per jam
Hari Kerja 1 Jam Pertama Dikali 1,5 Upah sebulan/173
Jam berikutnya Dikali 2 Upah sebulan/173
       
Hari Libur Resmi / OFF (5 Hari Kerja) 8 Jam Pertama Dikali 2 Upah sebulan/173
Jam ke-9 Dikali 3 Upah sebulan/173
Jam berikutnya Dikali 4 Upah sebulan/173
       
Hari Libur Resmi / OFF (6 Hari Kerja) 7 Jam Pertama Dikali 2 Upah sebulan/173
Jam ke-8 Dikali 3 Upah sebulan/173
Jam berikutnya Dikali 4 Upah sebulan/173
       
Hari Libur Resmi / OFF (6 Hari Kerja)
(jatuh hari pendek)
5 Jam Pertama Dikali 2 Upah sebulan/173
Jam ke-6 Dikali 3 Upah sebulan/173
Jam berikutnya Dikali 4 Upah sebulan/173
       

Berdasarkan KEPMEN 102 Pasal 11, maka untuk perhitungan Upah Kerja Lembur adalah melihat dalam satu hari, bukan terbagi antara pagi dan malam. Jadi, untuk contoh perhitungan lembur di atas seharusnya jam kerja lembur harus dijumlahkan dahulu, sebelum dilakukan pengali indek lembur.

Berikut simulasinya :

Waktu Lembur   Pengali Hasil
Lembur dipagi hari  (1.5jam)
+ Lembur dimalam hari (2 Jam)
1 jam Dikali 1.5 1.5
  2.5 jam Dikali 2 5
  3.5 jam   6.5
       

Dengan asumsi gaji pokok Rp. 3,000,000. Maka untuk perhitungan lembur (sesuai KEPMEN 102 tahun 2004) adalah :
(6.5) x (3,000,000/173) = Rp.112,716.7

Berikut video simulasi jika perhitungan uang lembur (sesuai KEPMEN 102 tahun 2004) dilakukan di dalam sistem penggajian :

 

 

 
Loading
  • Referensikan teman Anda untuk membaca.