rss

Tips HR & Payroll Software

Lebih dari 10 tahun kami hanya fokus membuat produk payroll, banyak pengalaman yang kami dapatkan. Dari pengalaman tersebut, kami yakin dapat membantu dan memberikan solusi untuk permasalahan perhitungan penggajian di perusahaan Anda.

Kelebihan atas Perhitungan Proporsional Kenaikan Karyawan, Hak Karyawan atau bukan?

Kelebihan atas Perhitungan Proporsional Kenaikan Karyawan, Hak Karyawan atau bukan?

Pada awal tahun ini, saya sempatkan untuk mengikuti seminar di kawasan Karawang. Seminar tersebut membahas tentang pengupahan. Terdapat pertanyaan yang menarik dari salah satu peserta seminar. Beliau menanyakan mengenai perhitungan proporsional, “Pak, Apakah ada peraturan yang mengatur perhitungan proporsional gaji? sekarang ini, di dalam perusahaan saya memakai pembagi tetap 25 untuk perhitungan proporsional gaji. Tetapi setiap tahun (kenaikan UMK) kami selalu menemukan masalah, seperti gaji karyawan dapat menjadi lebih besar. Tentunya hal ini tidak disetujui oleh management”.

Penanya tadi lalu mengajukan diri untuk menjelaskan di whiteboard, supaya Pembicara sepaham apa yang dimaksud dari Si Penanya.

Di dalam perusahaan beliau, memakai periode cut off untuk perhitungan proporsional (gaji pokok dan tunjangan tetap) adalah tanggal 21 bulan lalu sampai dengan tanggal 20 bulan ini. Sewaktu tanggal 1 Januari 2017 kemarin kebetulan UMK Karawang naik, dari Rp. 3.330.505 Menjadi Rp. 3.605.272.
Jadi perhitungan proporsional kenaikan gaji karyawan diterapkan adalah sebagai berikut :

Tanggal 21 Des 2016 sd 20 Jan 2017           : Terdapat 27 hari (Hari Kerja & Hari Libur Nasional)
Tanggal 21 Des 2016 sd 31 Des 2016          : Terdapat 10 hari (Hari Kerja & Hari Libur Nasional)
Tanggal 1 Jan 2017 sd 20 Jan 2017              : Terdapat 17 hari (Hari Kerja & Hari Libur Nasional)

DES 2016

JAN 2017

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

HK

HK

HK

HK

L

HK

HK

HK

HK

HK

OFF

L

HK

HK

HK

HK

HK

HK

OFF

OFF

HK

HK

HK

HK

OFF

HK

HK

HK

HK

HK

HK

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

10 Hari
17 Hari

 

Perhitungan Proporsional UMK 2016

Perhitungan Proporsional UMK 2017

(10/25) x Rp. 3.330.505 = Rp. 1.332.202

(17/25) x Rp. 3.605.272 = Rp. 2.451.584

Jumlah Gaji Pokok di bulan Januari 2017 = Rp. 3.783.786
(melebihi UMK, karena jumlah pembilang > dari jumlah pembagi).
Pembilang 27, Pembagi 25

Lalu pembicara menanyakan kepada peserta lainnya. “Apakah di dalam perusahaan Bapak/Ibu yang perhitungan proporsionalnya memakai pembagi tetap 25?”. Beberapa peserta ternyata ada yang sama, tetapi ada juga yang beda. Ada yang memakai pembagi tetap 20, 21, 22, 30/31, dan ada juga yang melihat jumlah hari kerja di setiap bulannya.

Pembicara menanyakan alasannya kenapa memakai pembagi tetap 25 untuk menghitung proporsional gaji. Dan si penanya pun menjelaskan alasannya, sebagai berikut :

UU No. 13 tahun 2003 Pasal 77 ayat (2), menjelaskan “Waktu kerja yang diwajibkan oleh setiap pengusaha, meliputi :

  1. 7 (tujuh) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu, atau
  2. 8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.

"Perusahaan kami memakai 6 Hari Kerja dalam 1 minggu". Saut Si Penanya.

Sedangkan pembagi tetap 25, kami melihat ke peraturan Kepmen No. 102 Men/VI/2004 Pasal 9 ayat (1), yang berbunyi : “Dalam hal upah pekerja/buruh dibayar secara harian, maka perhitungan besarnya upah sebulan adalah upah sehari dikalikan 25 (dua puluh lima) bagi pekerja/buruh yang bekerja 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu, atau dikalikan 21 (dua puluh satu) bagi pekerja/buruh yang bekerja 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu”.

Di dalam UU No. 13 tahun 2003, tidak ada yang menyatakan secara jelas peraturan perhitungan proporsional gaji, Apakah harus dibagi 20? 21? 22? 25 26?

“Apakah saya bisa memakai Kepmen No. 102 Men/VI/2004 Pasal 9 ayat (1), untuk menentukan pembagi perhitungan proporsional?” tanya si peserta.

“Kepmen No. 102 Men/VI/2004 merupakan peraturan menteri tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur. Sedangkan Pasal 9 ayat (1) adalah menjelaskan dalam konteks “Untuk mencari Upah sebulan, jika pekerja/buruh merupakan pekerja/buruh yang dibayarkan secara harian”. Jawab Si Pembicara.

Memang, jika menentukan pembagi tetap untuk perhitungan proporsional gaji akan berdampak terjadi kelebihan atau kekurangan pembayaran gaji karyawan. Karena jumlah hari kerja di setiap berbeda-beda. Maka dari itu, kita tidak dapat menentukan Bilangan Tetap sebagai pembagi.

Tetapi, saya lebih menyarankan untuk perhitungan proporsional gaji, dengan melihat ke-3 ketentuan di bawah :

  1. UU No. 13 Tahun 2003 Pasal 91 ayat (1).

    “Pengaturan pengupahan yang ditetapkan atas kesepakatan antara pengusaha dan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh tidak boleh lebih rendah dari ketentuan pengupahan yang ditetapkan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.

  2. PP 78 Tahun 2015 Pasal 24 ayat (1).

    “Upah tidak dibayar apabila pekerja/buruh tidak masuk kerja dan/atau tidak melakukan pekerjaan”.

  3. PP 78 Tahun 2015 Pasal 32.

    “Pengaturan pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 sampai dengan Pasal 31 ditetapkan dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan atau Perjanjian Kerja Bersama”.

Dengan melihat ke-3 ketentuan di atas, tata cara perhitungan proporsional gaji diserahkan kembali kepada masing-masing perusahaan. Pembicara berpendapat “Supaya perhitungan proporsional gaji tidak terjadi kelebihan atau kekurangan gaji karyawan, maka pembilang dan pembagi harusnya jumlah nilai yang sama”.

Misalkan, pembagi untuk perhitungan proporsional gaji ditentukan berdasarkan jumlah hari kerja di setiap bulannya.
Jika kita simulasi dengan contoh di atas, adalah sebagai berikut :

DES 2016

JAN 2017

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

HK

HK

HK

HK

L

HK

HK

HK

HK

HK

OFF

L

HK

HK

HK

HK

HK

HK

OFF

OFF

HK

HK

HK

HK

OFF

HK

HK

HK

HK

HK

HK

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

9 Hari
16 Hari

 

Perhitungan Proporsional UMK 2016

Perhitungan Proporsional UMK 2017

(9/25) x Rp. 3.330.505 = Rp. 1.198.981

(16/25) x Rp. 3.605.272 = Rp. 2.307.374

Jumlah Gaji Pokok di bulan Januari 2017 = Rp. 3.506.355
(Pembilang 25, Pembagi 25)

Dengan demikian, kelebihan atau kekurangan yang terjadi dari perhitungan proporsional gaji tidak akan terjadi.

 

 

 
Loading
  • Referensikan teman Anda untuk membaca.