Payroll Software | Artikel Pengembangan Diri

Sharing pengalaman dalam perjalanannya untuk mengembangkan Andal Software, dari segi Leadership, People Development, dan pola berpikir untuk mengembangkan bisnis.

Bagaimana Mempertahankan Karyawan

Bagaimana Mempertahankan Karyawan

Saya diundang menjadi pembicara tentang millenial, topik yang saya bawakan adalah bagaimana memberikan feedback pada millenial, suatu seminar yang sangat menarik menurut saya. Kebanyakan peserta kalau saya scan adalah golongan baby boomer atau paling tidak golongan Gen X. Baby Boomer seperti saya hidup di jaman batu, dimana permainan yang saya gunakan pada saat saya masih kecil menginjak dewasa adalah, kelereng, gatik, petak umpet, Gambar cerita yang dipotong kotak-kotak sebagai mata uang, dan banyak permainan lain, yang memerlukan kerja sama dan team. Secara sosial memang bagus, kami belajar bagaimana berteman, dan juga bagaimana menghormati orang tua, dan juga bagaimana menghormati guru. Saya ingat sekali pada saat saya kelas 3 SD, kalau pak Guru datang ke sekolah dengan menggunakan sepedanya, maka kami murid murid berebut untuk membawakan sepeda ada juga yang membawakan tasnya. Itu semua dilakukan sebagai tanda hormat kepada guru. Jadi kami dari kecil sudah di tanamkan nilai untuk hormat kepada orang yang lebih tua, atau orang yang dituakan.
Pola Pikir yang Membangun

Pola Pikir yang Membangun

Cara berpikir akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan seseorang. Menyadari hal ini, setiap ada Andalers baru, kami juga memperhatikan cara berpikir mereka. Seperti misalnya orang yang suka ngeyel, maka pada saat dia ngeyel, kita kasih tahu, orang yang ngeyel artinya merasa dirinya benar. Ada juga yang suka mempertahankan diri apabila dikasih tahu, kita tidak mengharapkan ada pembelaan diri, yang artinya dia tidak mau dikoreksi. Pada saat Andalers baru mau memperbaiki sikap tersebut, maka akan terlihat perkembangan kemampuan dirinya akan meningkat. Apa sebenarnya yang terjadi? Pada saat mereka berhenti ngeyel dan membela diri, mereka mau menerima apa yang diberitahukan, dan pada saat mereka menerima masukan masukan, dengan sendirinya pengetahuannya akan meningkat. Mungkin pada saat awal dia menerima apa yang dikatakan, bisa juga dalam hatinya memberontak untuk tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh atasannya, tetapi lama-kelamaan karena disuruh hanya mendengarkan, otak akan menerima informasi yang benar.
Antara Mental Kaya dan Mental Miskin

Antara Mental Kaya dan Mental Miskin

Suatu ketika saya berbincang dengan seorang teman yang mempunyai jabatan manager di suatu perusahaan yang cukup besar, dan sebagai seorang yang mempunyai jabatan tingkat menengah tentunya mempunyai fasilitas kantor yang dapat digunakan untuk pribadinya, dengan tujuan agar pekerjaan yang harus dia lakukan berjalan dengan baik. Perusahaan mau memberikan segala fasilitas ke karyawan, tujuannya adalah agar pekerjaan yang harus dipertanggungjawabkan, dapat berjalan dengan baik. Tetapi ada saja yang memanfaatkan fasilitas tersebut untuk kepentingan pribadinya, seperti claim bensin, menggunakan jam kantor, membawa supplies kantor semuanya untuk kepentingan pribadinya. Dengan harapan pengeluaran pribadinya menjadi kecil dan penghasilan akan menjadi besar.
Membuat Perubahan

Membuat Perubahan

Minggu lalu saya berkesempatan menonton film yang berjudul “Say, I Love You”, sebuah film yang diangkat dari cerita nyata sekolah Selamat Pagi Indonesia. SMA Selamat Pagi Indonesia adalah sekolah gratis yang diperuntukan bagi anak-anak yang tidak mampu dengan kriteria, anak Yatim Piatu, Anak Piatu (salah satu orang tuanya meninggal), Anak Broken Home. Pertama kali membangun sekolah ini, keadaan anak-anak di sekolah tersebut banyak yang tidak mempunyai harapan dan masa depan lagi. Bisa dibayangkan anak-anak yang sudah tidak mempunyai harapan masa depan akan berperilaku seperti apa yang dia suka. Di sekolah tersebut juga diberikan asrama, makanan serta setiap murid mendapatkan uang saku.
Ambisi

Ambisi

Pada saat saya mulai berusaha, saya belajar bahwa setiap orang harus mempunyai ambisi untuk bisa lebih maju. Ambisi yang saya mengerti pada saat itu adalah seseorang yang mempunyai cita cita besar seperti mempunyai perusahaan yang besar, mempunyai rumah yang luas, menjadi seorang yang terkenal. Semua ambisi ini menurut saya pada saat itu adalah baik, untuk mendorong seseorang menjadi maju. Seseorang mau mengorbankan apa saja selama itu tidak dosa akan dikerjakan demi mengejar ambisinya.
Loading
  • Referensikan teman Anda untuk membaca.


Most Popular 3 Months Latest

06 Apr 2020 | 970
17 Apr 2020 | 891