rss

Payroll Software | Artikel Pengembangan Diri

Sharing pengalaman dalam perjalanannya untuk mengembangkan Andal Software, dari segi Leadership, People Development, dan pola berpikir untuk mengembangkan bisnis.

Siapa yang Mengendalikan Emosi Kita?

Siapa yang Mengendalikan Emosi Kita?

Belum lama berselang di social media beredar seorang ibu marah-marah tidak terkendali di suatu gerai gara-gara hal sederhana, kerena si kasir memanggilnya Oma. Ibu pembeli tersebut merasa sangat tersinggung dipanggil Oma, mungkin karena dia merasa bahwa tampilannya masih muda mengapa dipanggil Oma. Sebenarnya banyak sekali kejadian-kejadian seseorang marah tanpa sebab di jalan raya juga sering sekali terjadi saat mengendarai kendaraan tanpa kita sadari ada orang yang marah-marah.

Orang yang marah karena keadaan lingkungan tertentu dia merasa tidak senang, disebabkan orang tersebut tidak dapat mengendalikan emosinya. Oleh karena itu yang mengendalikan emosi dirinya adalah keadaan di sekelilingnya. Bisa jadi berupa pujian, orang seperti itu mungkin kalau di puji bisa jadi senangnya luar biasa, artinya dia bisa merasa senang karena dipicu dari luar, bukan dari dalam dirinya

Kemudian bagaimana reaksi kita terhadap orang seperti itu apabila itu terjadi ke diri kita? Saya melihat bahwa kasir di gerai tersebut tetap tenang dengan mendengarkan omelan si ibu tadi. Si kasir tidak terpengaruh terhadap apa yang terjadi di hadapan dirinya, artinya si karir dapat mengendalikan emosinya. Apa yang terjadi kalau si kasir juga mempunyai tipe yang sama, yang emosinya di kontrol oleh sekelilingnya, maka kejadiannya akan menjadi sangat ramai sekali, pasti akan saling mengumpat.

Dulu saya juga sering merasa kalau ada sekumpulan teman yang sedang bersama-sama kemudian berbica berbisik-bisik, saya merasa mereka membicarakan tentang saya. Emosi saya dikendalikan oleh keadaan sekeliling, akibatnya saya sering curiga dengan orang lain.

Pada suatu saat saya diminta untuk membaca buku berpikir dan berjiwa besar, saya membaca cerita di dalam suatu latihan perang, kemudian ada seseorang lewat kebetulan tidak jauh darinya ada puntung rokok, kemudian ada prajurit menegor dan memarahi orang yang lewat tadi untuk mengambil puntung rokoknya. Dengan tenang orang yang lewat tadi mengambil puntung rokok itu dan dibuangnya ke tempat sampah. Keesokan harinya si prajurit baru tahu orang yang dimarahi tadi adalah sang Jenderal Komandan tertinggi di latihan perang tersebut. Kemudian dengan segera si prajurit meminta maaf. Apa yang dikatakan oleh sang Jenderal: Ok, tidak apa-apa, untung saya bukan seorang Kopral.

Saya belajar banyak dari cerita itu, yang mengatakan bahwa bila sang jendral tadi berpangkat Kopral mungkin si prajurit tadi akan di caci maki balik. Artinya orang yang suka marah artinya masih rendah. Saya merasa tertampar dengan cerita itu, akhirnya saya belajar untuk mengendalikan diri.

Pelajaran yang saya dapatkan Pada saat orang mengatai saya atau marah-marah, apa sebenarnya yang terjadi, yang terjadi adalah karena dia kesal terhadap dirinya dan marah itu sebagai pelampiasan. Kalau kita tanggapi juga marahnya dia maka kita akan menerima kekesalan dia, yang bukan kekesalan di dalam hidup saya. Saya pernah diberitahu oleh teman, katanya kalau teman saya itu memberikan bingkisan kepada saya, kemudian saya tidak mau terima, bingkisan itu milik siapa? Tetapi kalau kita terima bingkisan itu menjadi milik siapa?

Orang yang marah-marah ibarat memberikan bingkisan kekesalannya pada kita, sebetulnya kita mempunyai pilihan untuk menerima bingkisan tersebut atau menolaknya. Si kasir di gerai pada cerita di atas memilih untuk tidak menerimanya, sehingga kekesalan masih milik si ibu yang marah- marah.

Mana yang lebih baik dapat mengendalikan emosi kita atau kita dikendalikan oleh lingkungan dan keadaan. Dengan belajar untuk mengendalikan emosi diri kita, saya merasa hidup saya jauh lebih tenang dan dapat berpikir lebih jernih, karena tidak dapat dipengaruhi oleh faktor luar.

Untuk memimpin organisasi yang besar, kita harus dapat mengendalikan emosi kita. Inilah yang saya ajarkan pada calon leader di Andal Software, selama mereka belum dapat mengendalikan emosinya, kalau diangkat menjadi leader akan mengalami kesulitan. Saya pernah punya departemen Head yang tidak dapat mengendalikan emosinya, kerja sama antar team menjadi tidak baik, dan pertumbuhan perusahaan akan terhambat.

penulis : INDRA SOSRODJOJO DIREKTUR ANDAL SOFTWARE

 
 
Loading
  • Referensikan teman Anda untuk membaca.


Most Popular 3 Months Latest

06 Apr 2020 | 970
17 Apr 2020 | 891