rss

Payroll Software | Artikel Pengembangan Diri

Sharing pengalaman dalam perjalanannya untuk mengembangkan Andal Software, dari segi Leadership, People Development, dan pola berpikir untuk mengembangkan bisnis.

Belajar dari burung

Belajar dari burung

Di dalam dunia sekarang ini banyak orang yang merasa khawatir, merasa cemas, merasa ketakutan dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Padahal perasaan tersebut dapat memengaruhi badan kita dan menimbulkan penyakit. Saya tidak tahu penyakit apa yang terjadi karena perasaan negatif yang ada di dalam diri kita, yang saya tahu hanyalah pikiran dapat memengaruhi tubuh kita, dan tubuh kita juga dapat memengaruhi pikiran kita.

Coba kita bayangkan seolah-olah kita makan jeruk nipis yang masam sekali, maka air liur kita akan keluar tanpa dapat dikendalikan, artinya air liur keluar karena dikendalikan oleh bagaimana kita berpikir, bukan oleh makanan yang kita makan. Pada saat kita makan, rasa makanan kita akan dikenali oleh otak kita dan otak itulah yang akan memicu beberapa bagian tubuh seperti air liur. Pada saat kita merasa sakit atau sakit panas, maka kita tidak dapat berpikir dengan baik, karena badan kita sedang terganggu. Jadi antara pikiran dan tubuh saling memengaruhi.

Kalau kita belajar dari burung, burung-burung di langit yang tidak menabur, tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun akan mendapatkan makanan. Bunga-bunga dan tanaman yang warna-warni bisa lebih indah dari pada pakaian raja, tanpa bunga dan tanaman memintalnya menjadi warna-warni yang sangat indah. Pertanyaannya adalah mengapa manusia masih mengalami kekhawatiran tentang hidupnya? Apakah benar bahwa makanan lebih penting dari hidup? Dan pakaian lebih penting dari tubuh?.

Memang benar menurut teori Maslow, bahwa makanan dan pakaian adalah kebutuhan dasar manusia untuk hidup. Saya belajar dalam kehidupan, seandainya kita hidup sederhana tetapi memperlihatkan kepada orang lain, bahwa kehidupan saya secara ekonomi jauh lebih baik dari apa yang dapat saya lakukan, maka saya akan stres, karena saya memaksakan gaya hidup yang belum selayaknya saya mendapatkannya.

Gaya hidup yang ingin menunjukkan kepada orang lain, bahwa diri saya sudah sukses, dengan ukurannya adalah barang-barang yang dimiliki atau makan di tempat-tempat makan yang kelas atas, maka diri saya akan terbelenggu pada pemikiran saya yang harus dilihat sebagai orang sukses oleh teman-teman saya.

Kecenderungan gaya hidup seperti ini, akan membuat sangat stres, ini seperti anak kelas 3 SD, yang seharusnya tidak naik ke kelas 4, tetapi oleh orang tuanya dibuat anaknya naik ke kelas 4 agar orang tuanya tidak malu kepada tetangga atau teman-temannya. Namun menurut saya, jika anaknya memang kemampuannya baru bisa kelas 3? Apa salahnya? Memang kemampuan untuk pendidikannya seperti itu, kita harus bisa menerima. Tetapi mungkin ada kelebihan lainnya yang tidak bisa kita lihat karena ambisi orang tuanya tinggi sekali terhadap anak tersebut tanpa melihat kemampuan anaknya ada dimana.

Kekeliruan cara berpikir bahwa untuk mendapatkan teman yang banyak harus terlihat sukses dari luar, artinya penampilan dan gaya hidup harus kelihatan seperti orang yang sukses. Cara berpikir seperti ini akan memenjarakan dirinya berlomba - lomba untuk menang di suatu pertandingan yang dia sendiri tidak menguasainya, akhirnya akan selalu kalah dan akan semakin stres. Pada saat pikiran menjadi stres, maka akan keluar banyak penyakit dari badan kita.

Pelajaran yang saya dapatkan
Kalau kita belajar dari burung - burung yang bebas beterbangan, mereka setiap hari selalu bekerja untuk mencari makan, dan makanan yang didapatkan cukup untuk hari itu. Waktu yang lain digunakan untuk membangun sarang, berkelompok dengan teman-temannya.

Apa yang dapat kita pelajari dari kehidupan burung tersebut, sebetulnya kalau kita mau bekerja dengan rajin dan penuh ketekunan maka sudah dipastikan kita tidak akan kekurangan makan. Pekerjaan yang kita lakukan setiap hari pasti akan menjamin kita semua untuk mendapatkan makanan, pakaian dan tempat tinggal yang layak. Layak artinya sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Seandainya saya adalah seorang tukang batu, maka kalau saya bekerja saya akan mendapatkan makanan, pakaian dan tempat tinggal yang layak sebagai tukang batu. Untuk hidup yang lebih lagi saya harus mengasah skill dan kemampuan saya agar nilai saya lebih tinggi lagi, sehingga kehidupan saya akan lebih naik lagi.

Jadi yang perlu diasah adalah kemampuan dalam diri kita, dan setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, ada yang kemampuannya berteman, mereka mempunyai banyak teman sehingga jaringan pertemanannya sangat luas, dan ini juga dapat dijadikan modal untuk mendapatkan penghasilan. Ada yang mahir dalam bidang teknik, dan banyak bidang yang lainnya. Bahkan ada yang mahir di seni lukis, dapat menjual lukisannya mahal sekali, tetapi ada pelukis yang nilai lukisannya murah sekali. Bagaimana si pelukis yang hasil lukisannya murah bisa menjadi mahal, tentunya dia harus mengasah dirinya dan berlatih untuk dapat membuat lukisan yang bernilai. Pelukis yang lukisannya bernilai tinggi pun dimulai dari lukisan yang sederhana.

Memang manusia harus mempunyai ambisi untuk bisa maju, tetapi ambisi yang dimilikinya harus diarahkan ke dalam dirinya bagaimana menjadi orang yang dapat menghasilkan karya yang bernilai untuk orang lain. Kalau ambisinya adalah untuk mengejar kekayaan maka dia akan stres. Mengejar untuk menjadi orang yang dapat menghasilkan karya pun, akan mendapatkan penghasilan yang baik juga akhirnya.

penulis :
INDRA SOSRODJOJO
DIREKTUR ANDAL SOFTWARE

 
 
Loading
  • Referensikan teman Anda untuk membaca.


Most Popular 3 Months Latest

30 Aug 2019 | 2363
06 Sep 2019 | 2166
20 Sep 2019 | 1889