rss

Payroll Software | Artikel Pengembangan Diri

Sharing pengalaman dalam perjalanannya untuk mengembangkan Andal Software, dari segi Leadership, People Development, dan pola berpikir untuk mengembangkan bisnis.

Bagaimana Mempertahankan Karyawan

Bagaimana Mempertahankan Karyawan

Saya diundang menjadi pembicara tentang millenial, topik yang saya bawakan adalah bagaimana memberikan feedback pada millenial, suatu seminar yang sangat menarik menurut saya. Kebanyakan peserta kalau saya scan adalah golongan baby boomer atau paling tidak golongan Gen X. Baby Boomer seperti saya hidup di jaman batu, dimana permainan yang saya gunakan pada saat saya masih kecil menginjak dewasa adalah, kelereng, gatik, petak umpet, Gambar cerita yang dipotong kotak-kotak sebagai mata uang, dan banyak permainan lain, yang memerlukan kerja sama dan team. Secara sosial memang bagus, kami belajar bagaimana berteman, dan juga bagaimana menghormati orang tua, dan juga bagaimana menghormati guru. Saya ingat sekali pada saat saya kelas 3 SD, kalau pak Guru datang ke sekolah dengan menggunakan sepedanya, maka kami murid murid berebut untuk membawakan sepeda ada juga yang membawakan tasnya. Itu semua dilakukan sebagai tanda hormat kepada guru. Jadi kami dari kecil sudah di tanamkan nilai untuk hormat kepada orang yang lebih tua, atau orang yang dituakan.

Menghormati orang yang dianggap lebih tua, sudah menjadi budaya dan kebiasaan kami anak-anak baby boomer, dan mungkin masih di generasi X. Tentunya sikap ini juga terbawa pada saat bekerja, kami merasa harus hormat atau respek pada atasan, dengan cara yang seperti kami mengerti pada saat itu. Golongan millenial yang lahir di pertengahan atau di penghujung tahun 80an, kehidupannya sudah jauh berbeda dengan para baby boomer, millenial ini lahir defaultnya adalah gadget, mereka sudah mengenal gadget sejak baru mulai belajar berbicara, melihat cartoon lewat handphone orang tuanya, sehingga pada saat sudah bisa membaca, mereka akan tahu banyak hal dari gadget yang dimilikinya. Tidak heran golongan milenial ini mempunyai pengetahuan yang lebih banyak dibandingkan baby boomer pada saat usia yang sama.

Cara untuk belajar pun sudah berbeda, kalau saya meeting dengan para millenial mereka tidak bisa lepas dari gadget, awalnya saya memang merasa kesal, kenapa saya ngomong mereka main gadget, ternyata yang mereka lakukan adalah pada saat saya berbicara misalnya menyebut nama orang yang mengemukakan suatu teori tertentu, mereka langsung search di gadgetnya, atau kalau saya mengeluarkan suatu istilah yang mereka belum mengerti, mereka langsung search di gadgetnya. Kalau baby boomer seperti saya, kalau ada yang tidak mengerti biasanya saya catat, dan nanti saya baru cari, karena memang default baby boomer bukan gadget.

Karena millenial secara pengetahuan cukup banyak yang diketahui dibandingkan dengan baby boomer, maka kalau baby boomer merasa bahwa pengetahuan dia lebih banyak, maka akan terjadi perbedaan dasar dalam melakukan pekerjaan bersama. Millenial merasa digurui, tetapi yang menggurui pengetahuan terbatas, padahal millenial sudah terbiasa dengan kebebasan berpikir mengemukakan pendapat, merasa ikut berkontribusi. Agar millenal merasa bahwa tempatnya bekerja itu menjadi tempat yang nyaman maka kita harus memberikan kebebasan untuk berpikir, berpendapat, dan mengekspresikan kemampuannya, tanpa dibuat jenjang antara atasan dan bawahan.

Apakah yang dimaksud dengan kebebasan itu boleh datang ke kantor secara bebas tanpa jam kerja? Saya masih berpendapat bahwa disiplin dengan jam kerja ke kantor bukanlah suatu kebebasan yang harus diberikan. Karena seseorang untuk berprestasi harus disiplin, kami menerapkan jam kantor dari jam 8 sampai jam 5 sore. Kami memberikan kebebasan di hal-hal yang dapat mengembangkan kemampuan para milenial dan mengajarkan mereka untuk disiplin, seperti jam kerja, membuat laporan hasil pekerjaan, membuat rencana kerja.

Pelajaran yang saya dapatkan
Millenial dengan kebiasaan dia bermain gadget sejak usia dini, mereka mengerti banyak hal, berbeda pada baby boomer, pada saat sekolah diajarkan untuk menghafal sehingga mendapatkan informasi, Millenial tidak perlu menghafal karena semua informasi sudah tersedia, dia bisa mendapatkan banyak informasi yang dibutuhkan.

Sehingga mereka biasanya ingin menunjukkan kemampuannya, ingin dihargai bahwa mereka bisa melakukan sesuatu yang lebih baik, ingin berdiskusi sehingga menghasilkan pemikiran-pemikiran baru, kalau ini semua bisa terpenuhi, biasanya millenial akan menunjukkan kemampuannya, dan mereka akan bertahan dalam pekerjaan, apalagi kalau keterikatan dengan teamnya sudah kuat sekali, maka millenial akan bertahan dalam pekerjaannya.

penulis :
INDRA SOSRODJOJO
DIREKTUR ANDAL SOFTWARE

 
 
Loading
  • Referensikan teman Anda untuk membaca.


Most Popular 3 Months Latest

05 Jul 2019 | 1647
26 Jun 2019 | 1411