rss

Payroll Software | Artikel Pengembangan Diri

Sharing pengalaman dalam perjalanannya untuk mengembangkan Andal Software, dari segi Leadership, People Development, dan pola berpikir untuk mengembangkan bisnis.

Membuat Perubahan

Membuat Perubahan

Minggu lalu saya berkesempatan menonton film yang berjudul “Say, I Love You”, sebuah film yang diangkat dari cerita nyata sekolah Selamat Pagi Indonesia. SMA Selamat Pagi Indonesia adalah sekolah gratis yang diperuntukan bagi anak-anak yang tidak mampu dengan kriteria, anak Yatim Piatu, Anak Piatu (salah satu orang tuanya meninggal), Anak Broken Home. Pertama kali membangun sekolah ini, keadaan anak-anak di sekolah tersebut banyak yang tidak mempunyai harapan dan masa depan lagi. Bisa dibayangkan anak-anak yang sudah tidak mempunyai harapan masa depan akan berperilaku seperti apa yang dia suka. Di sekolah tersebut juga diberikan asrama, makanan serta setiap murid mendapatkan uang saku.

Cara mendidik yang dilakukan oleh guru dan kepala sekolahnya, dengan cara disiplin kaku. Yang terjadi adalah anak-anak takut dihadapan para pendidik, tetapi di belakang para pendidik ini mereka bertindak seenaknya, ada yang mabuk, pacaran, membuang-buang makanan. Hal ini menyebabkan suasana di sekolah tersebut sangat tidak enak, dan tentu saja tujuan untuk memberikan pendidikan yang baik untuk anak-anak yang tidak mampu tidak tercapai. Pendiri sekolah Selamat Pagi Indonesia adalah Julianto Eka Putra yang dipanggil dengan sebutan Ko Jul. Saat Ko Jul berkunjung ke sekolah tersebut dan melihat keadaan sekolah seperti itu, maka Ko Jul sangat prihatin, dan akan mengubah sekolah tersebut menjadi sekolah yang berprestasi. Dia mengubah cara mendidik anak-anak, dan perubahan membawa pertentangan dengan guru dan kepala sekolah, akhirnya guru dan kepala sekolah keluar dari sekolah tersebut. Akhirnya Ko Jul sendiri yang harus mendidik anak-anak tersebut, dan terjadilah perubahan yang luar biasa. Dari anak-anak yang tidak mempunyai harapan, menjadi anak-anak yang penuh semangat dan mempunyai harapan yang besar untuk masa depannya. Anak-anak mau berjuang dengan keras, akhirnya banyak dari mereka yang sukses dan dapat menggapai impiannya.

Melihat film Say, I Love You, saya teringat suatu film lama yang berjudul To Sir With Love, yang diperankan oleh Sidney Poitier yang dirilis pada tahun 67 an. Film ini menceritakan suatu sekolah yang muridnya sangat urakan, tidak ada satu gurupun yang dapat bertahan untuk mengajar di sekolah ini. Kemudian ada seorang guru yang melamar untuk mengajar di sekolah ini, yang diperankan oleh Sidney Poitier, saya lupa namanya di film tersebut. Sidney mengajar dengan cara yang berbeda, dia mengajar dengan cinta kasih pada murid muridnya. Sidney memerlukan waktu untuk mengambil hati anak-anak didiknya, dan akhirnya anak-anak didik tersebut sangat mencintai gurunya. Dan proses belajar mengajar berjalan dengan sangat baik.

Pelajaran yang saya dapatkan
Dari kedua film tersebut banyak pelajaran yang bisa kita petik, kedua film tersebut berbeda 50 tahun tetapi esensinya sama. Kedua film tersebut menunjukan anak-anak yang tidak punya harapan, kedua film tersebut juga menunjukan cara mengajar yang sama dan para murid semua tidak ada yang dapat belajar dengan baik. Perubahan terjadi pada saat cara pendekatan pengajaran yang berbeda, mereka mengajar dengan hati dan cinta yang ingin mengubah nasib anak didik nya. Keadaan pun berubah bahkan anak-anak dapat berprestasi.

Para pendidik dengan anak didiknya biasanya mempunyai jarak umur yang cukup besar, dan perbedaan generasi ini membuat perbedaan nilai-nilai kehidupan. Sehingga terjadi generation gap, dimana generasi yang lebih senior membawa nilai-nilai pada saat dia dibesarkan, dan anak anak didiknya dengan segala perubahan kemajuan jaman hidup didalam dunia yang berbeda. Perbedaan nilai ini yang menjadi masalah bagi kedua generasi.

Persoalan ini terjadi baik di sekolah, di perusahaan maupun di keluarga. Sekarang ini di dalam perusahaan perusahaan sering diributkan dengan generasi milenial, banyak para pemimpin perusahaan bingung menghadapi generasi milenial ini. Karena dianggap agak aneh, tidak sama dengan keadaan sang pemimpin pada masa muda. Dengan adanya media sosial yang memberi label generasi milenial, maka dibenak orang-orang semakin nyata perbedaannya antara generasi milenal dengan generasi baby boomer maupun dengan generasi X.

Sebenarnya apa yang terjadi, kalau saya lihat yang sebenarnya, kejadian ini akan selalu terjadi karena perbedaan keadaan saat kita dibesarkan. Dulu waktu saya dibesarkan, saya tidak mengenal handphone, sekarang anak yang baru berumur 1 tahun sudah mulai menggunakan tablet untuk bermain. Sehingga mereka mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan jaman saya kecil yang tahunya hanya di lingkungan yang sangat kecil. Pengetahuan ini yang membuat mereka berbeda, jaman saya guru dianggap paling tahu, karena dari merekalah kita menambah ilmu pengetahuan. Sekarang ini guru bukan lagi pusat ilmu pengetahuan, yang menjadi pusat adalah mbah Google, jadi akan terjadi pergeseran peran. Seandainya seorang guru masih merasa menjadi pusat ilmu pengetahuan, yang lebih mengetahui dibandingkan muridnya, sudah tidak sesuai lagi dengan faktanya.

penulis :
INDRA SOSRODJOJO
DIREKTUR ANDAL SOFTWARE

 
 
Loading
  • Referensikan teman Anda untuk membaca.


Most Popular 3 Months Latest

05 Jul 2019 | 2043
30 Aug 2019 | 1716