rss

Payroll Software | Artikel Pengembangan Diri

Sharing pengalaman dalam perjalanannya untuk mengembangkan Andal Software, dari segi Leadership, People Development, dan pola berpikir untuk mengembangkan bisnis.

Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh

Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh

Waktu saya masih di sekolah dasar, diajarkan peribahasa, dan banyak sekali peribahasa yang harus saya hafalkan. Sampai sekarang beberapa peribahasa masih saya ingat, di jaman dahulu malah ada buku yang berisi hanya peribahasa. Peribahasa masuk ke dalam pelajaran bahasa Indonesia, tetapi kalau saya flashback, sebenarnya peribahasa mengajarkan perilaku manusia. Salah satu yang saya ingin bahas disini adalah peribahasa “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”, dan saya ingat sekali guru saya pada saat SD membawa Sapu Lidi untuk diperagakan, pada saat Pak Guru memegang satu lidi, maka akan dengan mudah memutus lidi tersebut, bila sudah dalam bentuk sapu yang terdiri dari banyak lidi, maka sangat sulit untuk mematahkannya.

Pada saat pelajaran sejarah saya juga diajarkan bahwa Indonesia dapat dijajah Belanda selama 350 tahun, karena Belanda membuat bangsa Indonesia dipecah dengan membuat golongan-golongan, dengan membuat kelompok-kelompok, maka satu sama lain tidak dapat bersatu. Kemerdekaan Indonesia dapat dicapai karena ada yang mempelopori agar semua rakyat Indonesia bersatu untuk mengusir penjajahan, dalam mengusir Belanda dari Indonesia para pejuang juga tidak membedakan dari suku apa, agama maupun ras. Bahkan ada orang Belanda juga yang ikut dalam perjuangan menuju Indonesia merdeka.

Saya pernah mendengar seseorang eksekutif suatu perusahaan mengatakan di tempatnya bekerja menerapkan konsep untuk mengadu satu divisi dengan lainnya, tujuannya agar saling mengawasi. Secara konsep memang benar, dengan adanya konflik antar divisi akan terjadi pengawasan yang dilakukan oleh divisi lain. Tetapi banyak yang dilupakan, pada saat terjadi konflik antar divisi, maka bisa saja penilaian terhadap divisi lain menjadi sangat subyektif. Bisa terjadi akan menimbulkan isu isu atau gosip yang sangat membahayakan, artinya setiap orang yang terlibat didalam perusahaan tersebut energinya banyak terserap untuk mengatasi gosip. Dan saya yakin perusahaan yang dikelola dengan menggunakan konsep seperti itu sulit untuk menjadi perusahaan yang prestasinya mencapai puncak. Karena memang energinya habis terkuras untuk mengurus persoalan internal yang tidak menuju pada target perusahaan. Kalau di mobil seperti tenaga yang dihasillkan oleh mesin banyak terbuang di transmisi karena sudah tidak efisien lagi, walaupun tenaga yang keluar dari mesin besar, tetapi sampai di roda untuk menggerakan mobil menjadi kecil, akibatnya mobil tersebut tidak bisa lari.

Sama halnya dengan negara, kalau negara sudah memulai dengan mengkotak-kotaknya rakyatnya, maka sulit sekali negara tersebut akan maju, karena semua tenaga dan biaya akan habis untuk mengurus hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kemakmuran. Kita lihat Tiongkok, yang sering dikritik sebagai negara anti demokrasi, tetapi kalau kita lihat sekarang ini pembangunan ekonomi dan tekhnologinya maju pesat. Banyak sekali orang-orang kaya kelas dunia yang muncul dari Tiongkok, sekarang sering sekali kalau kita jalan-jalan di luar negeri banyak turis-turis dari Tiongkok, hal ini menandakan kehidupan ekonomi di Tiongkok sangat baik. Sebaliknya Amerika tidak terlihat kemajuan yang sangat berarti, karena negaranya fokus pada perang, dahulu Amerika menguasai tekhnologi, secara perlahan penguasaan tekhnologi bergeser ke Tiongkok dan Israel. Telekomunikasi 5G, yang menemukan Huawei, dan Amerika sempat tidak senang hati dengan penemuan 5G yang digagas oleh Tiongkok.

Pelajaran yang saya dapatkan
Kemajuan suatu negara akan mengangkat derajat perekonomian rakyatnya, salah satu cara adalah dengan mempunyai seorang leader yang berintegritas tinggi, tidak mementingkan kepentingan pribadinya, dan benar-benar dapat mengayomi rakyatnya. Ini tidak saja berlaku untuk negara tetapi juga di dalam perusahaan. Saya menganggap bahwa membangun perusahaan seperti mempunyai negara kecil, dimana yang harus dipikirkan adalah bagaimana semua karyawan yang ada di dalam perusahaan tersebut dapat memperoleh kesejahteraan yang lebih baik. Seorang pemimpin perusahaan juga harus memikirkan karyawan yang ada di dalamnya, seorang pemimpin perusahaan yang hanya memikirkan dirinya saja, sulit untuk mendapatkan dukungan dari rakyatnya yang membuat perusahaan itu maju dan berkembang.

Kami di Andal Software mempunyai banyak ragam karyawan, yang berbeda dari suku, ras dan agamanya. Tetapi kami tidak pernah membedakan siapa dia, pada saat mengangkat menjadi leader bukan berdasarkan suku, ras dan agama, tetapi berdasarkan kemampuannya. Dengan tidak membedakan akan terbentuk budaya perusahaan yang lebih sehat, dan bisa berkompetisi dengan sehat juga, yang ujungnya dapat melibatkan semua karyawan untuk berkembang. Walaupun sudah dibuat budaya sedemikian rupa, apakah ada karyawan yang tertinggal, tentu saja ada, karena setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihan. Kalau memang kemampuannya hanya sampai disitu yang sudah kita terima.

penulis :
INDRA SOSRODJOJO
DIREKTUR ANDAL SOFTWARE

 
 
Loading
  • Referensikan teman Anda untuk membaca.


Most Popular 3 Months Latest

28 Mar 2019 | 2140