rss

Payroll Software | Artikel Pengembangan Diri

Sharing pengalaman dalam perjalanannya untuk mengembangkan Andal Software, dari segi Leadership, People Development, dan pola berpikir untuk mengembangkan bisnis.

Apa Upahnya Orang Memberi?

Apa Upahnya Orang Memberi?

Saya bertumbuh dan besar di lingkungan kebudayaan Jawa yang masih sangat pekat, banyak sekali petuah-petuah yang tertanam dalam diri saya. Dan saya merasakannya pada saat saya di sekolah dasar, dimana Pak Guru menggunakan sepeda untuk pergi ke sekolah, pada saat Pak Guru datang, kami berebut untuk membantu Pak Guru membawakan sepedanya, dan ada yang membawakan tasnya. Kami sangat hormat sekali pada Pak Guru, rasa hormat pada orang tua, siapapun itu kalau lebih tua biasanya kita menaruh hormat, kami akan menggunakan bahasa yang berbeda untuk berbicara pada orang yang lebih tua.

Pada saat membantu Pak Guru membawakan sepeda atau tas, kami tidak berpikir sama sekali, seandainya membantu Pak Guru nanti akan diberi nilai lebih baik dari yang lainnya, walaupun kami membantu Pak Guru, Pak Guru pun tidak membedakan saat kami ulangan, artinya kalau kami mendapatkan nilai jelek, ya kami harus menerimanya. Pada saat kita mau menolong orang lain atau membantu orang lain, harus ikhlas seperti yang dilakukan anak-anak pada saat saya masih sekolah dasar. Di dalam bahasa jawa ada pepatah yang mengatakan “Sepi ing pamrih rame in gawe”, orang yang bekerja tanpa mengharapkan sesuatu imbalan.

Andal Software sering membeli buku buku untuk dibaca para andalers, dan kami berkenalan dengan penerbit MIC, suatu saat manager dari MIC Publishing berkunjung ke Andal Software, dan mereka menceritakan sang pendiri yang bernama Julianto Eka Putra, cerita mengenai pengembangan sumber daya manusia hingga mendirikan sekolah gratis untuk anak anak yang kurang mampu. Mendengar ceritanya saya sampai merinding dan hampir meneteskan air mata.

Pak Julianto mendirikan sekolah gratis, tidak hanya sekolahnya saja, tetapi memberikan makan, penignapan dan seluruh kebutuhan untuk sekolah dan hidup secara gratis. Setelah mereka lulus, banyak dari mereka tidak mau meninggalkan SMA Selamat pagi, dan tentunya memerlukan biaya yang sangat besar. Untuk menutup biaya tersebut Pak Julianto mengajarkan anak-anak yang telah lulus untuk mulai membangun usaha, dan sekarang ini beberapa dari mereka sudah mempunyai usaha sendiri, dan sebagian lagi diajarkan untuk mengelola usaha Hotel, training dan bahkan dapat membantu di SMA selamat pagi.

Sekarang ini Pak Julianto memberikan banyak waktunya untuk membantu mengembangkan SMA Selamat Pagi Indonesia, semua usaha yang dimiliki oleh Pak Julianto sudah diserahkan ke profesional. Dan ternyata usaha yang dimiliki oleh Pak Julianto juga berkembang. Yang mendaftar ingin masuk ke SMA Selamat Pagi Indonesia ini ada sekitar 300 orang, dan yang diterima hanya sekitar 80 orang saja. Cara seleksinya dari mulai keluarga yang yatim piatu, kemudian anak yatim dan anak piatu, dan terakhir anak dari keluarga tidak mampu. Seleksinya juga memberikan kuota dari semua suku yang ada di Indonesia, juga dari latar belakang agama yang berbeda, sehingga di SMA Selamat Pagi Indonesia terjadi keberagaman suku, ras, dan agama. Mereka bisa saling bekerja sama dan tidak membedakan antara satu dengan lainnya.

Pelajaran yang saya dapatkan
Kesan pertama pada saat kita mendengar sekolah gratis, tentunya kita membayangkan suatu sekolah yang mutunya pasti tidak bagus. Tetapi SMA Selamat Pagi Indonesia, walaupun gratis, apalagi anak didiknya diberikan uang saku serta segala kebutuhan untuk sekolah, telah menjadi sekolah yang sangat bagus, karena lulusan dari sekolah tersebut dapat menjadi anak yang mandiri, dan mempunyai karakter yang bagus juga. Apa upahnya setelah memberi? Ini pertanyaan yang sering terdengar pada saat orang ingin memberi. Pak Julianto memberi anak-anak yang tidak mampu, yang tidak mungkin melanjutkan sekolah karena tidak mempunyai biaya, sehingga mereka dapat lulus SMA, dan juga dapat mempunyai usaha untuk membantu keluarga mereka. Menurut saya ini memberi tanpa pamrih, dan kalau dilihat usaha Pak Julianto juga semuanya bertumbuh.

Saya melihat kebanggaan dari Pak Julianto karena dapat membantu anak-anak yang tidak dapat sekolah, menjadi anak yang dapat mempunyai usaha sendiri, adalah suatu perasaan yang tidak mungkin dapat dibeli dengan uang. Begitu juga dengan anak-anak didiknya, saya melihat mereka mempunyai kebanggaan tersendiri terhadap Pak Julianto ini.

penulis :
INDRA SOSRODJOJO
DIREKTUR ANDAL SOFTWARE

 
 
Loading
  • Referensikan teman Anda untuk membaca.


Most Popular 3 Months Latest

28 Mar 2019 | 1995