rss

Artikel Pengembangan Diri | Payroll Software

Sharing pengalaman dalam perjalanannya untuk mengembangkan Andal Software, dari segi Leadership, People Development, dan pola berpikir untuk mengembangkan bisnis.

Belajar dari Buku Tua

Belajar dari Buku Tua

Saya mempunyai koleksi buku cukup banyak. Banyak juga buku-buku yang sudah tua. Buku terbitan tahun 70 – 80, kalau dilihat dari umurnya sudah lebih dari 30 tahun. Salah satunya tentang marketing dengan menggunakan data. Pada saat itu sudah ada komputer tetapi internet belum booming, bahkan pengguna email belum banyak. Dalam buku tersebut disarankan agar mempunyai data alamat yang dapat digunakan untuk target marketing. Disarankan pula di data tersebut dapat diketahui gender dan pendidikan. Alamat tersebut nantinya sebagai sasaran untuk dikirim bahan promosi dengan menggunakan kartu pos, atau selebaran berupa surat, atau bahan promosi lainnya.

Setelah surat-surat dikirim kemudian perlu ditracking dari sekian banyak surat yang dikirim. Seberapa yang membeli, agar dapat diketahui bahwa yang membeli berasal dari surat yang mana. Maka di dalam surat tersebut disertakan kupon, kalau membeli barang akan mendapatkan diskon. Di dalam buku tersebut diperlihatkan statistik keberhasilan dan bahkan persentasi secara umum, yang disebut berhasil itu berapa persen antara jumlah yang membeli dengan jumlah surat yang dikirim. Saat saya membaca pengiriman surat, saya mulai menghitung biaya, berapa biaya yang harus dikeluarkan pada saat kita mengirimkan ribuan surat? Kalau setiap surat yang dikirim biayanya Rp. 5,000. Jika 10,000 surat yang dikirim, sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp. 50,000,000. Itu hanya untuk biaya pengirimannya saja.

Kemudian pertanyaannya, kalau untuk menjalankan marketing dengan cara seperti dulu memakan biaya yang sangat mahal. Mengapa saya harus membaca lagi buku tersebut ? Tentunya sebelum membaca buku tersebut kita tahu bahwa buku itu ditulis saat belum ada internet. Alat komunikasi yang paling efektif pada saat itu adalah surat dan telepon. Kalau kita mengikuti seperti apa yang dikerjakan pada saat itu, tentunya sudah tidak relevan lagi. Jadi pada saat membaca buku yang umurnya sudah tua, kita harus lebih kritis. Misalnya mengapa kita harus mengirimkan surat sebanyak itu? Mengapa harus mengumpulkan data alamat, dan mengapa surat yang dikirim bisa beberapa macam bentuknya untuk satu tujuan?

Pada saat membaca buku tua, cara berpikir kita harus kritis. Maka kita akan mendapatkan makna dari buku tersebut. Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah yang perlu saya tanyakan pada saat membaca buku marketing yang sudah tua. Dimana teknologi masih primitif tetapi Si marketing tersebut pasti mempunyai pemikiran yang bagus, dan pemikiran tersebut diimplementasikan dengan menggunakan teknologi yang canggih pada jamannya. Dengan mengetahui maksud dari Si penulis, pesan-pesan yang tersembunyi, maka kita dapat melakukan adaptasi cara berpikir Si penulis. Kemudian kita lakukan dengan teknologi yang ada sekarang ini.

Pelajaran Yang Didapatkan
Buku-buku tua banyak yang bagus dalam memberikan pesan moral maupun teknik. Saya senang sekali mendengarkan cerita misalkan Mahabarata, Sam Kok (kisah tiga negara), dan buku-buku kuno lainnya. Cara mempelajarinya adalah dengan banyaknya pertanyaan. Suatu contoh di cerita Sam Kok, ada seorang penasehat yang sangat dikenal namanya Zu Ge Liang. Saya suka sekali dengan cara dia berpikir. Pada saat mau perang, kemudian jenderal perangnya mengatakan “Bagaimana saya dapat berperang? Sedangkan kita tidak mempunyai anak panah yang cukup”.

Kita tidak punya waktu untuk membuat anak panah agar dapat berperang melawan meraka. Kemudian Zu Ge Liang dengan santainya mengatakan “Besok malam aku akan kasih kamu ribuan anak panah”. Tentunya Sang jenderal menertawainya. Zu Ge Liang dengan tenangnya, menyuruh para prajurit untuk membuat beberapa perahu, dan perahu tersebut ditutup rapat dengan jerami. Lalu perahu tersebut dilewatkan ke sungai dimana para musuh ada di samping kanan kiri sungai. Musuh mengira bahwa di dalam arakan perahu tersebut ada tentara di dalamnya. Perahu yang dibuat oleh Zu Ge Liang diserang dengan panah yang banyak sekali. Anak panah yang menancap di jerami kemudian melekat di perahu.

Akhirnya Zu Ge Liang mendapatkan anak panah yang cukup banyak, itu dapat digunakan untuk berperang melawan musuhnya. Apa yang saya pelajari adalah untuk mengalahkan musuh. Kita perlu mempergunakan kekuatan musuh. Musuhnya mempunyai anak panah yang banyak, bagaimana caranya untuk mendapatkan anak panah tersebut? Sekarang perang tidak lagi menggunakan anak panah, tetapi cerita tersebut masih dapat saya gunakan untuk membuat strategi di Andal Software. Kalau kita mengerti apa yang dipikirkan oleh Zu Ge Liang pada saat itu.

penulis :
INDRA SOSRODJOJO
DIREKTUR ANDAL SOFTWARE

 
 
Loading
  • Referensikan teman Anda untuk membaca.


Most Popular 3 Months Latest

09 Nov 2018 | 1603